Tentara Nasional Indonesia ( TNI) baru saja memperingati hari ulang tahun yang ke-74 kemarin, Sabtu (5/10/2019). Meskipun usianya kian dewasa, TNI tidak bisa dilepaskan dari cikal bakal perjuangan prajurit di era awal kemerdekaan.

Kala itu, sebelum TNI dibentuk, rakyat bersama-sama mempertahankan keutuhan NKRI di tengah gejolak yang muncul. Sebutlah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Chungking. Saat peristiwa 10 November 1945 pecah di Surabaya, jajaran Tionghoa di Surabaya mengorbankan jiwa raga mereka untuk mempertahankan kemerdekaan dari serangan tentara Britania Raya-India Britania.

TKR Chungking dan Palang Merah Dikutip dari buku Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran (2014) karya Iwan Santosa, kala itu, sebagian Tionghoa di Surabaya membentuk TKR Chungking. Dengan bendera kebangsaan Tiongkok, mereka menyerbu gelanggang pertempuran yang panas bersama tentara dan rakyat Indonesia. Dalam pertempuran itu, TKR Chungking mengenakan helm yang biasa dikenakan militer Jerman. Mereka juga menenteng senapan Karaben 98-K yang sempat dipasok Nazi Jerman di tahun 1930-an ke Pemerintah Chungking.

Tak hanya bergabung sebagai TKR, para pemuda Tionghoa juga mendirikan Barisan Palang Merah Tionghoa di Surabaya. Pertolongan mereka tidak hanya diberikan ke orang berdarah Tiongkok, tetapi seluruh warga negara Indonesia. Palang Merah Tionghoa pun membuka sepuluh pos dengan 11 dokter dan 600 tenaga medis. Pembiayaan pertolongan dipikul oleh organisasi bernama Cung Hua Chung Hui.

Di sisi lain, pemuda Tionghoa di Malang ramai-ramai membentuk Angkatan Muda Tionghoa (AMT). Mereka juga mendirikan Palang Biru. Baik AMT maupun Palang Biru sama-sama bertolak ke Surabaya untuk ikut pertempuran November 1945.

Pecahnya Peristiwa 10 November Pada 10 November 1945 malam, pertempuran memuncak. Rumah sakit yang tersebar di seantero Surabaya dipenuhi korban pertempuran. Banyak di antara pasien adalah warga Tionghoa Surabaya. Kantor berita Reuters hari itu melansir berita ribuan orang Indonesia menjadi korban serbuan militer Sekutu. Laki-laki, perempuan, sipil maupun militer, dewasa maupun anak-anak. Ikut menjadi korban juga orang Tionghoa, Indo-Belanda, dan India.Radio Republik Indonesia (RRI) 13 November 1945 mengabarkan bahwa orang-orang Tionghoa turut bertempur bersama rakyat Indonesia melawan Inggris di Surabaya. Dalam aksinya, mereka mengibarkan bendera Kebangsaan Tiongkok.

Kondisi salah satu sudut di Kota Surabaya ketika pertempuran 10 November 1945.(Panoramio.com) Kaum wanita Tionghoa pun bahu-membahu dengan para pemudi Indonesia di barisan Palang Merah Indonesia. Adapun Radio Pemberontak di Surabaya menyebutkan bahwa pengeboman membabi buta dari Sekutu menyebabkan banyak sekali penduduk Tionghoa yang tinggal di Kramat Gantung, Surabaya, menjadi korban. Akhir pertempuran Pertempuran berakhir 28 November 1945 di Kelurahan Gunung Sari. Korban tentara dan masyarakat Surabaya diduga mencapai 20 ribu orang. Sedangkan korban Sekutu diperkirakan 1.500 jiwa. Akibat agresi militer itu, diperkirakan seribu penduduk Tionghoa meninggal dan lima ribu lainnya luka-luka.

Peristiwa 10 November 1945 menjadi salah satu pertempuran terbesar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Saat itu, perang 10 November memperlihatkan kepada dunia bahwa Indonesia merupakan negara yang berdaulat. Tak boleh ada negara asing yang boleh kembali untuk menguasai Indonesia, terutama Belanda. Pemerintah Indonesia kemudian mengenang Peristiwa 10 November 1945 sebagai Hari Pahlawan.

Catatan Redaksi: Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-74 Tentara Nasional Indonesia pada 5 Oktober, Kompas.com menuliskan kembali sejumlah operasi dan pertempuran yang pernah dilakukan TNI. Operasi ini menjadi catatan emas TNI dalam mempertahankan kedaulatan atau misi penting di luar negeri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here