Kalau Anda berkunjung ke Surabaya, seringkali akan menemukan kali atau sungai yang melintas di tengah kota tidak dalam keadaan penuh sampah. Sungai-sungai Surabaya relatif bersih sehingga kadangkala digunakan anak-anak untuk berenang. 

Bersihna sungai-sungai di Surabaya tidak lepas dari para petugas kebersihan kota. Dua di antaranya adalah Suhartono dan Bambang Sujatmiko. 

Dua tahun menjadi petugas kebersihan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya, Jawa Timur, tak membuat mereka berkeluh kesah. Dengan setia keduanya membersihkan sungai-sungai di kawasan Kecamatan Asemrowo, Surabaya setiap hari, meski hanya bergaji Rp 1,5 juta di bawah upah minimum regional (UMR). 

Menurut Suhartono, pemuda asal Jember yang tinggal di Jalan Sukomanunggal Baru PJK ini, sejak dua tahun berduet dengan Bambang, dia kebagian tugas membersihkan sungai-sungai di Jalan Asemrowo, Genting dan Asem Mulya. 

Ada banyak suka-duka yang dia alami saat menjalankan tugasnya. Sejak datang ke Kota Pahlawan ini dua tahun lalu, Suhartono mengaku senang bekerja sebagai juru bersih-bersih dan bekerja di lingkungan pemerintahan. 

Suhartono mengaku pernah juga menemukan orok bayi tewas dibuang di sungai. “Di sini, saya juga pernah menemukan bayi dibuang. Ya nyangkut di sini. Pas lagi bersih-bersih kok ada bayi,” kenang dia sembari menunjuk posisi bayi yang dia temukan setahun lalu. 

Diceritakan dia, setiap hari mulai pagi hingga sore, dia dan Bambang selalu berada di bantaran sungai yang berada di kawasan Kecamatan Asemrowo itu. Hanya dengan alat sederhana dia membersihkan sungai-sungai yang tercemar limbah sampah, mulai sampah bekas kayu, botol plastik air meneral, tas plastik dan sampah-sampah lain yang mudah hanyut.

“Ya yang kita bersihkan sampah-sampah yang mengapung saja. Untuk masalah pengerukan ada bagiannya (petugas) sendiri,” katanya. 

Dengan sebatang bambu yang ujungnya diberi jaring-jaring mereka berdua memunguti sampah. Sementara sampah-sampah yang terbawa arus sungai itu sendiri, di hadang dengan bambu panjang yang melintang di tengah sungai. 

“Sampah-sampah ini kita kumpulkan dengan memungutinya sedikit demi sedikit. Setiap hari sampah-sampah ini banyak sekali,” sahut Bambang, asal Trenggalek yang tinggal di Jalan Gubeng Kertajaya

Setelah sampah-sampah yang mengotori sungai itu dikumpulkan di tepian sungai, mereka lantas mengangkutnya untuk dibuang di tempat pembuangan akhir (TPA) Benowo. Memang, seperti diketahui, sejak menjabat sebagai Wali Kota Surabaya pada 2010 silam, Tri Rismaharini begitu antusias mengajak warganya turut serta menjaga lingkungan dari kotoran sampah. 

Bahkan, jelang musim hujan seperti saat ini, dia tengah gencar menginstruksikan jajarannya untuk membersihkan sungai-sungai dari kotoran sampah. Sebab, saat musim hujan datang, sampah-sampah tersebut bisa memicu terjadinya banjir. Jika air yang tercemari sampah ini meluber ke perkampungan penduduk, bisa menimbulkan penyakit. 

Risma sendiri, juga tidak segan-segan ikut turun ke lapangan untuk membersihkan saluran air yang tercemari limbah sampah. Targetnya, memasuki musim hujan, semua sungai-sungai di Kota Pahlawan ini harus sudah bersih dari limbah sampah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here