Ada sebagian kecil umat Islam yang menggebu-gebu semangat jihadnya. Menurut mereka, segala permasalahan di negeri ini, dan negeri-negeri Islam lainnya, hanya dapat selesai dengan jihad. Jihad yang mereka maksud adalah berperang secara fisik. Bunuh-bunuhan. Qital. Itu kata mereka. Dalam setiap forum pengajian, seminar, diskusi, dan omongan-omongan di antara sesamanya, jihad selalu disebut berulang-ulang. Seperti tidak ada kata lain yang lebih indah selain jihad. Para juru bicara mereka, setiap berbicara dalam forum-forum pengajian, tidak lupa memompakan semangat berjihad. Tidak boleh ada disenting opinion. Opini lain yang berbeda. Semisal opini yang menyatakan keragaman makna jihad. Selain perang juga bisa bermakna kerja keras, dan lainnya. Atau ketika ada yang menyampaikan bahwa jihad paling utama adalah jihad melawan nafsu. Bukan jihad dalam arti berperang dan bunuh-bunuhan. Statemen terakhir ini sepertinya berpotensi meruntuhkan materi propaganda mereka. 

Jika ada yang nyeletuk soal jihad melawan nafsu lebih utama dibanding jihad perang, mereka akan menolaknya. Jika sedikit mengerti hadis, mereka akan mengatakan bahwa hadis yang menjelaskan jihad terbesar ialah melawan nafsu adalah hadis daif. Hadis daif tidak boleh dijadikan dalil. Terkadang tidak sampai di situ. Mereka mencari kambing hitam. Mereka bilang, jihad melawan nafsu itu ajaran kaum sufi. Kaum yang banyak mengerjakan amalan bid’ah. Bahkan mengamalkan amalan syirik. Seperti menyembah kuburan, meminta kepada orang yang sudah mati, dan lain sebagainya. 

Nah, dalam tulisan ini, saya akan bicara soal vonis daif pada hadis jihad melawan nafsu. Ada persoalan yang perlu diluruskan. hehehe. Serius bener ya. Pake diluruskan segala. Tapi iya, emang bener. Ada yang perlu diluruskan. 
Kebanyakan mereka terfokus pada hadis berikut:

رَجعْنَا من الْجِهَاد الْأَصْغَر إِلَى الْجِهَاد الْأَكْبَر

kami kembali dari jihad kecil kepada jihad besar 

Saya kasih catatan, saudara. Jika mengkaji hadis, kaji yang lengkap. Jangan setengah-setengah. Karena, jika hanya berdasarkan satu hadis lalu orang menyimpulkan, takutnya dia malah meninggalkan ajaran Islam atau malah mengingkarinya. Padahal bisa jadi ajaran yang ditinggalkan itu penting dipegangi sebagai pegangan hidup di dunia yang fana ini. Contohnya ya hadis jihad besar melawan nafsu ini.

Hadis di atas memang secara sanad dihukumi lemah (daif). Hadis ini diriwayatkan al-Baihaqi dalam az-Zuhd, al-Khathib dalam Tarikh Baghdad, an-Nasa’i dalam al-Kuna. Al-Baihaqi mengatakan, hadza isnadun fihi dhu’fun (sanad ini mengandung kelemahan). 

Sekalipun dikatakan lemah al-Baihaqi, namun sebenarnya tidak ada masalah dalam kontennya. Secara substansi, makna hadis tersebut sahih. Nafsu adalah kesadaran yang mendorong orang menuruti keinginannya karena mengira keinginan itu baik untuk dirinya. Karena itu nafsu sering menjebak manusia dalam ilusi. Agama datang untuk membimbing nafsu agar mengikuti perintah Allah, bukan mengikuti keinginan sendiri. Menolak keinginan nafsu memerlukan usaha yang berat. Lebih-lebih mengarahkannya mengikuti perintah-perintah Allah. Nafsu yang tidak terkontrol akan menjerumuskan manusia dalam angkara murka, kezaliman pada sesama, kerusakan alam semesta, dan kedurhakaan kepada Tuhan pencipta semesta. Banyak sekali ayat Al-Quran yang berbicara tentang anjuran menjauhi memperturutkan hawa nafsu. Sebagaimana Al-Quran, Nabi Muhammad saw. juga mengajarkan bahwa menolak memperturutkan hawa nafsu adalah sebuah perbuatan terpuji. Bahkan beliau menegaskan berjuang melawan memperturutkan hawa nafsu adalah perjuangan besar. Jihad akbar dan jihad paling utama. Coba kita baca pelan-pelan hadis berikut: 

أفضلُ الْمُؤْمِنينَ إسْلاماً مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسانِهِ وَيَدِه وأفْضَلُ المُؤْمِنينَ إيمَاناً أحْسَنُهُمْ خُلُقاً وأفْضَلُ المُهاجِرِينَ مَنْ هَجَرَ مَا نَهى اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ وأفضلُ الجهادِ منْ جاهَدَ نَفْسَهُ فِي ذاتِ اللَّهِ عزّ وجَل
Mukmin yang paling utama keislamannya adalah umat Islam selamat dari keburukan lisan dan tangannya. Mukmin paling utama keimanannya adalah yang paling baik perilakunya. Muhajirin paling utama adalah orang yang meninggalkan larangan Allah. Jihad paling utama adalah jihad melawan nafsu sendiri karena Allah.

Hadis ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, Sunan at-Tirmidzi, Sunan Abi Dawud, dan Sahih Ibn Hibban. Hadis jihad paling utama adalah melawan nafsu di atas berstatus sahih. Paling tidak dengan melihat kitab yang mencantumkannya, jika sudah mafhum; Sahih Ibn Hibban. Lalu, bagaimana penjelasan para ulama tentang hadis di atas?

Pendapat At-Thaibi (w. 743 H.)
Dalam kitab Al-Kasyif ‘An Haqaiq as-Sunan Syarh Misykat al-Mashabih, at-Thaibi mengomentari hadis tersebut dan mengatakan, 

يعنى المجاهد ليس من قاتل الكفار فقط، بل المجاهد من حارب نفسه وحملها وأكرهها على طاعة الله تعالى؛ لأن نفس الرجل أشد عداوة معه من الكفار؛ لأن الكفار أبعد منه، ولا يتفق التلاحق والتقابل معهم إلا حينا بعد حين، وأما نفسه فأبدا تلازمه، وتمنعه من الخير والطاعة، ولا شك أن القتال مع العدو الذي يلازم الرجل أهم من القتال مع العدو الذي هو بغيد منه،

Mujahid bukan orang yang berperang dengan orang-orang kafir musuh saja. Tetapi, mujahid yang sejati adalah orang yang memerangi nafsunya, mendorongnya dan memaksanya agar taat kepada Allah. Hal itu karena nafsu seseorang adalah musuh yang lebih kuat dibanding kaum kafir yang memusuhi. Karena, orang kafir yang memusuhi berada pada posisi yang jauh. Tidak akan bertemu dan berhadapan-hadapan dengan mereka kecuali jika ada kondisi tertentu. Sedang nafsu seseorang, maka ia akan selamanya bertemu dengannya, nafsu akan menghalangi orang melakukan kebaikan dan ketaatan. Tidak diragukan lagi, berperang dengan musuh dekat lebih penting dibanding berperang dengan musuh jauh (Al-Kasyif ‘An Haqaiq as-Sunan Syarh Misykat al-Mashabih, jilid 2, hal. 491)

Pendapat Ibnu Hajar al-Asqalani (773-852 H.)
Dalam kitab Fath al-Bari Syarah Sahih al-Bukhari, penjelasan tentang man jahada nafsahu,

يَعْنِي بَيَانَ فَضْلِ مَنْ جَاهَدَ وَالْمُرَادُ بِالْمُجَاهَدَةِ كَفُّ النَّفْسِ عَنْ إِرَادَتِهَا مِنَ الشَّغْلِ بِغَيْرِ الْعِبَادَةِ وَبِهَذَا تظهر مُنَاسبَة التَّرْجَمَة لحَدِيث الْبَاب وَقَالَ بن بَطَّالٍ جِهَادُ الْمَرْءِ نَفْسَهُ هُوَ الْجِهَادُ الْأَكْمَلُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَن الْهوى

Maksudnya bab ini menjelaskan keutamaan orang yang berjihad. Arti berjihad di sini adalah menahan nafsu dari keinginannya melakukan kesibukan selain ibadah. Dengan ini jadi terang kesesuaian judul dalam Sahih al-Bukhari dengan hadis yang dicantumkan di dalamnya. Ibnu Bathal berkata, “Jihadnya seseorang melawan nafsunya adalah jihad paling sempurna. Allah berfirman, ‘Sedangkan orang yang takut kepada maqam Tuhannya, dan menahan dirinya dari memperturutkan hawa nafsu, sungguh surga akan menjadi tempat tinggalnya..” (Fath al-Bari Syarah Sahih al-Bukhari, jilid 11, hal. 337-338)

Pendapat al-Munawi (w. 1031 H.)
Al-Munawi dalam kitab Faidh al-Qadir Syarah al-Jami’ as-Shaghir mengatakan, 

)وأفضل الجهاد من جاهد نفسه في ذات الله عز وجل) فإن مجاهدتها أفضل من جهاد الكفار والمنافقين والفجار لأن الشيء إنما يفضل ويشرف بشرف ثمرته وثمرة مجاهدة النفس الهداية {والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا} وكفى به فضلا وقد أمر الله بمجاهدة النفس فقال {وجاهدوا في الله حق جهاده} 

Memerangai nafsu lebih utama dibanding memerangi orang-orang kafir, munafik, dan penjahat. Hal itu karena sesuatu dapat menjadi utama dan tinggi nilai dengan melihat dampaknya. Dampak memerangi nafsu adalah diperolehnya hidayah. Allah berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh menaati kami akan kami tunjukkan kepadanya jalan-jalan menuju kami”. Dengan pernyataan ayat tersebut, sudah cukup jelas kemuliaan memerangi nafsu. Allah memerintahkan memerangi nafsu, “dan berjuanglah dalam ketaatan kepada Allah dengan sebenar-benarnya perjuangan”.  (Faidh al-Qadir Syarah al-Jami’ as-Shaghir, jilid 2, hal. 173)

Pendapat As-Shan’ani (w. 1182 H.)
Dalam kitab at-Tanwir Syarah al-Jami’ as-Shaghir, beliau mengatakan,

)المجاهد) حقيقة (من جاهد نفسه) على فعل الطاعات ومنها الجهاد في سبيل الله وعلى ترك المنكرات وبالجملة فكل طاعة لا تتم إلا بجهاد النفس. 

Hakikat seorang mujahid adalah orang yang berjuang melawan nafsunya agar senantiasa menjalankan segala ketaatan. Di antara ketaatan adalah berjuang di jalan Allah dan meninggalkan kemunkaran. Secara umum, seluruh ketaatan tidak akan sempurna tanpa jihad melawan nafsu (at-Tanwir Syarah al-Jami’ as-Shaghir, jilid 10, hal. 466)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here