Halodunia.net – Jakarta, Fenomena manusia gerobak kembali muncul di sekitar jalanan Ibu Kota dan daerah penyangganya pada Bulan Ramadan tahun ini. Tak hanya manusia gerobak, para ‎pengemis juga masih tampak ada di beberapa jalanan Jakarta. Mereka tampak mengisi jalanan Jakarta sehabis Isya hingga menjelang sahur.

Manusia gerobak adalah salah satu potret kemiskinan Ibu Kota. Banyak dari mereka bukan warga asli Jakarta. Mereka rata-rata pendatang yang mencoba peruntungan di Jakarta. Namun, peruntungan mereka di Jakarta tak semudah yang dibayangkan. Tanpa ijazah dan kemampuan, tak mungkin mereka mendapatkan pekerjaan yang layak.

Sosiolog asal Universitas Nasional (Unas), Sigit Rochadi menjelaskan beberapa faktor yang menjadi penyebab masih adanya pengemis serta manusia gerobak di Jakarta. Salah satunya yakni, kebijakan Pemprov DKI yang seakan berpihak kepada pribumi dan kalangan kelas bawah.

Maraknya pengemis, termasuk yang di lampu merah tidak dipisahkan dari kebijakan Anies-Sandi yang seakan berpihak pada pribumi, populis, dan membela kelas bawah. Pernyataan Anies seakan mengundang orang miskin masuk Jakarta,” kata Sigit.

Selain itu, sambung Sigit, Bulan Ramadan menjadi momen bagi pengemis ‎untuk meraup rezeki sebanyak-banyaknya. Momen itulah yang dimanfaatkan bagi para manusia gerobak dan pengemis untuk berbondong-bondong mengisi ruang-ruang tepian jalan.

“Mentalitas buruk, malas, dan mencari jalan ‎pintas dengan memperdaya orang lain termasuk memanipulasi identitas diri telah menggejala di kalangan kelas bawah. Mentalitas semacam itu, dia belajar dari perilaku elit dan birokrasi yang memanfaatkan momentum dan menerabas seperti korupsi, mark up, dan sebagainya,” kata Sigit.

Oleh karenanya, perlu ada tindakan nyata dan ‎serius yang harus dilakukan oleh Pemprov DKI. Salah satunya yakni, pembinaan sosial bagi para PMKS. Menurut Sigit, ada tiga kategori PMKS yang ada di Jakarta.

“Pengemis kategori 1, karena alasan ekonomi, perlu dibina oleh Dinas Sosial untuk pengemis itu. pengemis kategori 2 bermental buruk, perlu tindakan tegas, dan kategori 3, perdagangan manusia atau human trafficking,” kata Sosiolog asal Universitas Nasional (Unas), Sigit Rochadi.(ay/fjr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here