SURABAYA – Potensi gempa dengan kekuatan maksimal 6,5 SR di Kota Surabaya karena adanya dua patahan atau sesar aktif, menjadi kewaspadaan Pemerintah Kota Surabaya serta berbagai pihak untuk melakukan sejumlah langkah antisipasi. Edukasi kepada warga mengenai gempa, serta kesiapan bangunan tahan gempa menjadi langkah antisipasi yang dilakukan saat ini.

Upaya menyiapkan diri menghadapi potensi gempa, merupakan salah satu langkah yang harus ditempuh bila potensi bencana itu tidak dapat dihindari. Kesiapan bangunan yang tahan gempa menjadi keharusan bagi individu maupun korporasi, yang hendak membangun gedung di Surabaya.

Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Lukman Hakim, Standar Nasional Indonesia (SNI) merupakan syarat mutlak untuk mendirikan bangunan, terutama untuk mengantisipasi potensi gempa. Bangunan yang telah dipersiapkan menghadapi bencana, dipastikan akan lebih tahan atau dapat terhindar dari kerusakan akibat gempa.

“Semua bangunan yang di wilayah tertentu, kita harus update dengan SNI yang baru. Seperti contohnya, bagaimana dulu kategori satu, dua, tiga, empat, sekarang dengan percepatannya berapa. Kan gempa itu terjadi adalah massa bangunan dengan percepatan, percepatan satu wilayah tertentu diupdate, maka kita harus melihat. Kalau dulu masih global, sekarang A, B, C, lebih dirinci lagi. Namanya SNI kan standar nasional, semua bangunan harus berstandar nasional, kalau enggak (bagaimana)? Jadi, nanti menjadi standar untuk pemerintah daerah memberikan izin. Oh ya, sudah memenuhi standar nih,” kata Lukman Hakim.

Para pembicara yang membahas mengenai Ancaman Gempa Surabaya di Kampus ITS (Foto:VOA/ Petrus Riski).
Para pembicara yang membahas mengenai Ancaman Gempa Surabaya di Kampus ITS (Foto:VOA/ Petrus Riski).

Hidup harmoni dengan lingkungan menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh warga Kota Surabaya dalam menghadapi potensi gempa. Pemahaman mengenai apa itu gempa, berapa kekuatan dan akibatnya, serta bagaimana dan ke mana warga dapat menyelamatkan diri, harus menjadi pengetahuan yang dimiliki oleh setiap warga.

Selain mitigasi, Guru Besar Fakultas Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof. Priyo Suprobo mengatakan, pengecekan kondisi bangunan serta keberadaan peta zonasi gempa, merupakan antisipasi dan kesiagaan Kota Surabaya dalam menghadapi potensi gempa.

“Kita harus bersahabat dengan gempa ya. Nah, untuk itu kita harus mengantisipasi mulai dari mitigasinya bagaimana, saya kira Surabaya sudah siap, Surabaya sudah melakukan penelitian yang dilakukan oleh Pak Amien cs, teman-teman, sudah dua tahun. Itu bagian dari pada hal yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi gempa. Setelah itu, perlu ada microzonning, khusus peta gempa yang ada di Surabaya. Kemudian langkah berikutnya baru kita melakukan cek satu persatu terhadap bangunan-bangunan yang ada,” kata Priyo Suprobo.

Pakar geologi dari Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim (PSKBPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Amien Widodo mengatakan, adanya dua sesar aktif yang berpotensi mengakibatkan gempa cukup besar di Kota Surabaya harus disikapi serius, namun tidak berarti harus menjadi takut. Penilaian bangunan yang berkaitan dengan orang banyak harus dilakukan, termasuk pemberian edukasi mengenai penguatan bangunan agar tahan menghadapi gempa.

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menggelar Diseminasi mengenai Potensi Gempa Surabaya (Foto:VOA/ Petrus Riski)
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menggelar Diseminasi mengenai Potensi Gempa Surabaya (Foto:VOA/ Petrus Riski)

“Jadi karena adanya itu, dan itu kalau misalnya terjadi gempa itu akan mempengaruhi seluruh wilayah Surabaya tadi. Tinggal menyiapkan tadi, rumahnya, tanahnya, sama orangnya. Makanya harus ada assessment terhadap bangunan sekolah, terus bangunan heritage, cagar budaya itu kan karena dia dipakai untuk banyak orang di situ kan mestinya harus ada yang menilai. Ya semua, nanti semua dinilai, kita menyarankan Pemkot itu melakukan penilaian itu dan memberikan percontohan bagaimana cara menguatkan rumahnya,” kata Amien Widodo.

Wakil Wali Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana mengaku telah lama melakukan sosialisasi dan edukasi kepada pelajar mengenai bagaimana cara menghadapi bencana, termasuk gempa. Pemerintah Kota Surabaya, kata Whisnu, akan menjadikan kajian dan hasil diseminasi dari ITS sebagai bahan evaluasi untuk menyusun Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), yang di dalamnya juga mensyaratkan standar nasional pendirian gedung yang tahan gempa.

“Kita kan sudah mulai sosialisasi, baik ke pelajar, sosialisasi ke masyarakat sekitar yang memang nanti terdampak. Tapi, memang kalau dua sesar itu aktif dua-duanya, itu seluruh Surabaya terdampak, sehingga kita berikan wawasan bagaimana bicara pencegahan, bagaimana kita bicara pendidikan tentang gempa itu sediri, supaya mereka juga tidak terlalu takut, sambil nanti regulasi kita atur untuk bisa mengatasi itu. Sambil evaluasi Perda RTRW itu, seluruh bangunan di sekitar itu yang memang di sesar aktif itu akan kita evaluasi tentang IMB-nya. IMB sebenarnya cukup, cukup untuk melihat itu (antisipasi), tinggal nanti standardisasi IMB-nya itu yang kita perketat,” jelasnya. [pr/uh]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here